Rapat Tim Ekonomi Tanggal 2013-09-10 Jam 15:00:00

Rapat Tim Ekonomi | Tanggal 10 September 2013 | Pukul 15:00:00
Progres Evaluasi Pengelolaan Masalah Ekonomi

Bismillahirrahmanirrahim.

Saudara Wakil Presiden dan para peserta rapat kabinet  terbatas yang saya cintai, alhamdulliah kita dapat kembali melaksanakan pertemuan ini untuk memastikan bahwa kita terus gigih bekerja untuk mengatasi tekanan terhadap ekonomi kita dewasa ini.

Sering saya katakan bahwa setiap pagi, setiap saya bangun pagi, selalu terlintas di pikiran saya, apa hadiah berita yang baik hari itu dan kemudian selalu juga ada berita yang kurang nyaman, ada good news juga ada bad news. Demikian juga dalam pengelolaan pemerintahan yang saya beserta Wapres dan para menteri lakukan selama ini. Good news yang dapat saya sampaikan kepada Saudara, 2 (dua) hari ini rupiah kita stabil atau menguat tipis. Saham kita menguat pada posisi sekarang ini, selama 2 (dua) hari hampir mencapai 5 (lima) persen atau dibandingkan ditambah kemarin berarti 5 (lima) persen lebih berarti, good news. Tidak ada rumor baru yang serius dan peringkat kita di tengah-tengah tekanan kepada perekonomian kita pada World Economy Forum dari 50 meningkat menjadi 38.

Itu good news, bad news-nya sungguhpun ada pembaikan seperti itu, ekonomi kita belum aman. Kecuali defisit neraca berjalan, benar-benar di bulan-bulan mendatang bisa kita perbaiki. Saya menganggap tetap belum aman ditambah dengan perkembangan geopolitik sebagaimana urusan Suriah yang menjadi debat hangat pada masyarakat internasional maupun soal-soal yang lain. Oleh karena itu, agar kita lebih yakin, lebih optimis, dan tekanan ini bisa kita lampaui maka mari kita perbanyak good news, mari kita bekerja all out, jangan pernah ada satu hari pun yang tidak kita gunakan untuk mengelola semua persoalan ini dengan sebaik-baiknya.

Selama saya menghadiri pertemuan G20, saya juga memantau apa yang ada di tanah air, termasuk yang dilakukan Wapres dan Saudara semuanya, dan saya hanya ingin mengingatkan kembali pada forum kita sore hari ini bahwa sasaran yang hendak kita wujudkan dari sekarang hingga bulan-bulan mendatang adalah stabilitas harga. Berarti kita bisa mengelola inflasi secara positif dan bahkan harapan saya sebetulnya ada pembaikan pada harga-harga tertentu, stabilitas tapi juga pembaikan pada komoditas tertentu.

Yang kedua, kita juga harus berupaya dengan sekuat tenaga untuk mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja. Apa yang Saudara lakukan terus berkomunikasi dengan dunia usaha, mempersiapkan perangkat untuk kebijakan fiskal antara lain tujuannya adalah mencegah terjadinya gelombang PHK, itu sasaran yang kedua.

Sasaran yang ketiga, bagaimanapun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat harus kita cegah untuk tidak lebih melemah, harapan kita membaik pada angka tertentu dan kemudian stabil. Demikian juga Indeks Harga Saham Gabungan yang trennya hari-hari terakhir ini membaik, harus kita jaga dengan segala upaya agar tren itu kembali positif.

Oleh karena itu, untuk mencapai 4 (empat) sasaran itu, tiada lain, apa yang telah kita tetapkan sebagai paket Agustus itu sungguh dijalankan. Saya memantau, sebagian sudah berjalan, sebagian belum dijalankan dengan penuh. Saya juga ingin dalam waktu 3 (tiga) bulan ini, rencana investasi, banyak rencana investasi yang karena satu dan lain hal belum terimplementasikan padahal itu peluang, harapan saya diselesaikan. Kalau penyebabnya belum klop antara Kementerian tertentu dengan rencana investasi itu, ya selesaikan. Kerja di kantor, jangan pulang ke rumah kalau belum selesai. Itu investasi.

Untuk stabilitas harga utamanya harga pangan, caranya Saudara sudah tahu semua, bikin supply pangan itu lebih besar daripada demand-nya, sederhana sekali. Saya mendengar, ada yang belum ke situ.

Yang keempat, dolar juga pasar uang sebetulnya, seimbangkan antara supply dengan demand dolar. Caranya Saudara juga sudah tahu sebetulnya bagaimana kita dengan dunia usaha bekerja sama, berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik. Itu cara yang keempat.

Cara yang kelima, saya ingin betul dalam waktu 3 (tiga) bulan ini, apa yang ada dalam MP3EI, kalau itu berupa foreign direct investment ataupun peluang investasi untuk usaha dalam negeri itu konkrit apa yang kita tawarkan apalagi mereka sudah berminat, konkrit itu diimplementasikan. Saya tidak ingin dengar dari pihak kita sendiri baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah kurang memberikan fasilitas, perijinannya lama, akhirnya peluang besar itu tidak datang. Memang ini jangka menengah tetapi kalau jangka pendek, upaya jangka pendek yang telah kita tetapkan dilaksanakan benar-benar selama 3 (tiga) bulan ini, dan 3 (tiga) bulan ini sudah konklusif rencana investasi itu akan dilakukan maka jangka menengah pun insya Allah ekonomi kita menjadi kuat. Ini saja yang perlu saya garis bawahi dan hari ini kita akan membahas itu. Saya tidak ingin sebetulnya terlalu banyak rapat seperti ini karena sudah sangat jelas.

Saya ingin dilapori setelah seminggu meninggalkan tanah air apa yang terjadi, terlalu banyak informasi yang masuk kepada saya. Ada simpul-simpul yang tidak pas yang kurang bergerak tidak boleh terjadi, tidak boleh terjadi. Saya memang menginginkan bukan sekedar aman atau selamat dari tekanan baru ini, dari goncangan baru ini, tetapi ekonomi kita itu memiliki peluang yang besar sebetulnya untuk betul-betul bisa bersaing secara global pula.

Coba simak apa yang saya sampaikan ini. Pengalaman saya menghadiri pertemuan puncak G20 di Rusia, saya ingin jelaskan lagi bahwa good news-nya kalau kita bicara perekonomian global, ekonomi negara maju utamanya Amerika Serikat dan Jepang itu mengalami peningkatan, pembaikan, meskipun masih sedikit, meskipun secara keseluruhan negara-negara maju masih struggling untuk memulihkan perekonomiannya untuk tumbuh lebih tinggi sedikit dari pertumbuhan yang rendah atau bahkan sangat rendah.

Contoh, negara maju diperkirakan tahun ini akan tumbuh 1,2 persen, Amerika Serikat diperkirakan 1,7 persen, ini baik dibandingkan sebelumnya. Bahkan saya dengar Amerika Serikat ada prediksi lebih tinggi lagi dari angka ini dua koma sekian persen. Bagus kalau negara-negara maju segera pulih  perekonomiannya. Rusia sendiri, ada beberapa sumber tapi yang paling optimis akan tumbuh 3,3 persen tahun ini. Kemudian Tiongkok, Presiden Xi Jinping juga mengatakan kemarin sekitar 7,5 Persen (7 sampai 7,7 persen). Untuk ukuran Tiongkok tentu ini perlambatan pertumbuhan. India pada kisaran 5,6 atau 5,7 persen, Brazil sekitar 2,9 persen, Afrika Selatan 2,5 persen. Jika Indonesia bisa tumbuh di sekitar 5,9 persen, karena OECD saya ketemu dengan pimpinannya, kasih angka kita 5,8 tetapi sumber yang lain bisa memberi angka 5,9 prediksinya, andaikata ini bisa kita penuhi dengan segala upaya maka sebetulnya peringkat pertumbuhan kita masih nomor dua setelah Tiongkok, dari semua negara G20 dan dari juga emerging markets.

Saya hanya ingin menggambarkan we are not alone sebetulnya, teman-teman juga repot akibat perubahan dramatis dari policy moneter Amerika Serikat. Nilai tukar, nilai tukar rupiah ini terdepresiasi, catatan Januari sampai Agustus 7,79 persen, sebutlah minus hampir 8 persen, kemudian India itu minus 13,3 persen tetapi sumber yang lain bahkan sampai 24 persen, Brazil minus 15,51 persen, Rusia minus 12 persen, Afrika Selatan minus 17 persen, Turki minus 8,1 persen relatif sama dengan Indonesia. Artinya, teman-teman kita juga mengalami tekanan yang berat seperti ini dan kemarin juga saling bertukar pikiran, saling berbagi informasi. Itu dari nilai tukar tadi, growth, sekarang exchange rate.

Nah, masalah unemployment (pengangguran), ternyata negara-negara maju juga masih mempunyai persoalan, Amerika 7,4 persen, Inggris 7,7 persen, Spanyol 27,2 persen, Italia 12 persen, Perancis 11 persen. Yang baik Jerman sama Jepang, Jerman 5,4 persen dan Jepang 4,2 persen. Sementara itu, posisi kita tidak terlalu jauh dengan beberapa negara BRICS. BRICS Saudara-saudara, Brazil 5,6 persen, Rusia 5,3 persen, kita juga terakhir 5,9 persen, India 9,9 persen, Afrika Selatan 25,6 persen, kemudian Tiongkok 4,1 persen. Jadi di atas kita yang jelas Tiongkok, sedikit di atas kita Brazil dan Rusia.

Apa artinya? Memang emerging markets kali ini sedang mendapatkan tekanan sementara developed countries advanced economies itu mau memiliki pembaikan. Dalam intervensi saya di G20 kemarin, saya ucapkan selamat dan senang karena negara maju mulai menggeliat, tetapi marilah kita bekerja sama dengan policy coordination, dengan konsultasi, dengan coordinated action agar semua tumbuh, jangan sampai negara maju tumbuh, negara yang emerging dibikin tidak tumbuh. Andaikata tumbuh tapi pasar di negara berkembang 1,1 miliar, Tiongkok 1,3 miliar, Indonesia 0,25 miliar, misalnya kami semua terganggu, belum berhasil, belum Rusia, itu juga mengganggu perekonomian mereka, menggangu ekspor komoditas mereka.

Saudara-saudara, justru inilah yang harus memotivasi kita untuk bekerja lebih serius sehingga ya kita berlomba dengan negara emerging markets yang lain untuk cepat-cepatan menaikkan capaian ataupun keadaan ekonomi masing-masing.

Sambil jalan nanti akan saya sampaikan juga apa yang perlu kita lakukan ke depan ini, tapi yang jelas saya sampaikan ke Wapres, kemarin dalam Pertemuan G20, saya juga sempat melakukan pertemuan tidak selalu formal dengan Perdana Menteri Jepang, dengan Presiden Tiongkok, urusan kerja sama perekonomian kita ini untuk sekaligus memastikan kerja sama billateral swap arrangement itu terjadi jika diperlukan.

Ingat tahun 2005 dan 2008 dulu sesuai dengan perjanjian di kawasan saling bantu di antara negara-negara, membantu yang sedang mengalami kesulitan. Indonesia memiliki komitmen ketika kita menghadapi tekanan ekonomi 2005, 2009 dari negara-negara di kawasan ini yang disebut billateral swap arrangement. Alhamdulillah komitmen itu ada lagi sekarang ini, dan sikap saling membantu itu justru makin kuat. Oleh karena itu, ketika pasar bisa lebih tenang dengan dana berjaga-jaga itu, jika sesuatu terjadi meskipun insya Allah, sekali lagi insya Allah, tidak pernah kita sentuh justru mari kita gunakan peluang ini, ruang ini untuk melakukan semua hal yang harus kita lakukan. Kuncinya, Saudara-saudara, kita sendiri. 2005, 2008, kita mampu, pemerintah pusat dan daerah dan juga dengan dunia usaha. Saya mengatakan kali ini juga harus kita lakukan dan kalau itu kita lakukan, saya punya keyakinan yang tinggi mudah-mudahan 1, 2, 3, 4 bulan ini tekanan yang berat ini bisa kita atasi dan ekonomi kita kembali menggeliat dan bahkan tumbuh makin baik.

Isu ekonomi antara lain itu kemarin tentu ada sejumlah hal, kembali investasi, jobs, unemployment, teknologi yang berkaitan dengan jobs lantas policy coordination yang senantiasa kita bahas dalam Forum G20. Kalau politik dan keamanan, Saudara juga mengetahui memang didominasi oleh pembahasan isu Suriah dan bahkan kami berdiskusi sampai jam 01.30 menjelang dini hari karena memang hangat, semua bicara, Presiden Obama, Presiden Putin-Rusia, lantas Perdana Menteri David Cameron-Inggris, Kanselir Angela Merkel-Jerman, Presiden Hollande-Perancis, Presiden Xi Jinping-Tiongkok, dan kami-kami semua bicara. Terus terang sebagaimana saya katakan pandangannya intinya terbelah dalam 2 (dua) ekstrem. Ekstrem yang pertama waktu itu, serang dengan operasi militer tanpa atau dengan mandat PBB. Yang satunya lagi, jangan coba-coba sentuh Suriah apalagi tanpa mandat PBB, jadi no go.

Nah, di situlah memang relatif tegang forum itu dan saya menyampaikan pandangan saya in between, tidak pergi ke ekstrem yang satu dan ekstrem yang lain tapi yang jelas harus ada respons masyarakat internasional. Tidak harus melaksanakan serangan militer tapi semacam gencatan senjata peace, kemudian diawasi dengan international courses dengan mandat PBB, memungkinkan bantuan kemanusiaan dan selanjutnya proses politik yang inklusif, demokratis, dan transparan berdasarkan keinginan rakyat Suriah sendiri. Nah, yang tengah inilah yang tadinya kurang begitu laku karena sudah terbelah 2 (dua). Dalam perkembangannya 3 (tiga) hari terakhir ini mudah-mudahan Allah mengijinkan ini, nampaknya serangan militer itu mungkin bisa tidak jadi dilakukan karena dua-duanya sudah mulai memikirkan dampaknya, sudah memikirkan opsi politik, sudah memikirkan semacam jalan tengah.

Saya ikuti talk show di Amerika Serikat, menyebut juga cease fire. Saya ikuti yang  lain-lain, Dewan Keamanan segera melakukan sesuatu to bring peace dan itulah posisi kita yang segaris. Saya sudah sampaikan ke Sekjen PBB, ke utusan khusus untuk Suriah Lakhdar Brahimi, dan surat sudah saya layangkan hampir semua kepada anggota baik tetap maupun tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Saya pun berkirim surat ke Presiden Assad, ke Presiden Dewan Keamanan PBB, pemimpin negara-negara ASEAN, pemimpin Amerika Latin dan pemimpin Nordic.

Itulah diplomasi all out kita. Kita tentu tidak bisa mengatur dunia tapi hanya memberikan pandangan, memberikan usulan disertai tanggung jawab dan niat baik. Bahkan saya katakan kalau solusinya adalah peace making, gencatan senjata maksud saya, kemudian ada pasukan PBB yang mengawasi perdamaian, saya sampaikan Indonesia siap untuk berkontribusi mengirimkan satuan militernya sebagai bagian dari Peace Keeping Operation.

Saya belum tahu perkembangan hari ini dan besok, dan lusa, tetapi saya senang bahwa para pemimpin dunia yang saya simak perbincangannya hari-hari terakhir ini nampaknya sudah mulai menyadari bahwa solusi politik, solusi damai, itu yang jauh lebih baik dibandingkan aksi militer. Saya sudah meminta Menteri Luar Negeri untuk terus memantau dan manakala diperlukan Indonesia siap untuk ikut memikirkan apa yang terbaik bagi Suriah.

Saudara-saudara, itulah inti dari G20 Summit yang mesti Saudara ketahui, dan setelah ini nanti saya minta diberikan update dulu. Kemudian tolong isu apa yang mengemuka, tidak boleh satu pun isu tidak ada solusinya, tidak boleh jalan di tempat, tidak boleh kandas, dan kalau sudah diputuskan, jalankan. Hanya dengan itu akan bergerak mengalir, kalau tidak, capek kita. Sudah memutuskan tapi tidak berjalan dengan baik, capek nanti. Saya dengan Wapres akan bersama-sama Saudara pada bulan-bulan ini agar semua policy, semua putusan itu bisa dijalankan dengan benar.

Terima kasih.