Rapat Terbatas Tanggal 2014-01-08 Jam 10:00:00

Rapat Terbatas | Tanggal 08 Januari 2014 | Pukul 10:00:00
Insentif Dokter dalam BPJS

Para peserta Rapat Kabinet Terbatas yang saya cintai, alhamdulillah hari ini kita bisa bertemu untuk membicarakan satu hal yang amat penting berkaitan dengan implementasi Sistem Jaminan Kesehatan Nasional, sesuatu yang amat penting bagi kehidupan rakyat kita, bagi kesehatan masyarakat yang insya Allah lebih baik di masa depan. Saya mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan BPJS Kesehatan dan Pimpinan Ikatan Dokter Indonesia yang memenuhi undangan saya untuk hadir dalam rapat terbatas hari ini.

Yang ingin saya sampaikan adalah, sejak saya berada di Surabaya bersama para menteri terkait dan Pak Fahmi Idris mengunjungi puskesmas dan Rumah Sakit dr. Soetomo dengan tujuan supaya bisa melihat langsung implementasi dari Sistem Jaminan Kesehatan Nasional utamanya di Jawa Timur, utamanya lagi di Surabaya. Apa yang saya lihat waktu itu, pelayanan kesehatan berjalan baik. Memang pasiennya cukup banyak, yang dilayani juga banyak, dengan demikian saya melihat langsung intensitas yang lebih tinggi dari pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh para dokter dan tenaga medis. Jadi sekaligus saya mendapatkan 2 (dua) gambaran, 2 (dua) realitas; di satu sisi, alhamdulillah pelayanan kesehatannya berjalan baik, saudara-saudara kita dilayani dengan baik, tetapi di sisi lain memang sekali lagi load ataupun intensitas pekerjaan dari para dokter dan tenaga medis itu meningkat.

Sejak itu hingga hari ini sebetulnya, saya banyak sekali mendapatkan masukan, apakah itu komentar, ada juga keluhan, dan juga aspirasi dari kalangan dokter dan tenaga medis, baik langsung pada saya maupun kepada Ibu Negara yang memang selalu menjalin komunikasi dengan masyarakat luas. Masukan itu rata-rata dikirim melalui sms, mulai dari kata-kata yang moderat dengan kata-kata yang agak keras, tetapi kalau saya sudah biasa selama 9 (sembilan) tahun lebih menerima suara masyarakat dengan berbagai macam gaya bahasa. Yang penting ingin saya ketahui apa yang menjadi pemikiran mereka, apa yang dirasakan, dan kemudian kalau ada kritik apa kritiknya, begitu.

Sejak itu, saya kira sebagian yang hadir juga tahu, saya berkomunikasi dengan saudara-saudara, dengan Pimpinan BPJS Kesehatan, Pak Fahmi Idris, saya bicara dengan Menko Kesra, Pak Agung Laksono dari Surabaya juga. Saya bicara dengan Menteri Keuangan. Dan tentunya Mensesneg dan Seskab menjalin komunikasi dengan yang lain, untuk merespons apa yang disampaikan oleh para dokter dan tenaga medis itu. Tentu bukan hanya itu, untuk membahas bagaimana implementasi dari BPJS Kesehatan atau yang lebih tepat sebetulnya implementasi dari Sistem Jaminan Kesehatan Nasional ini.

Sebagaimana Saudara ketahui, bahwa kita akan melakukan evaluasi sebenarnya menyangkut implementasi dari Sistem Jaminan Kesehatan Nasional ini. Bagus menurut saya, apa yang kita terima di periode awal implementasi ini, dan tentu akan menjadi bagian evaluasi kita nanti secara menyeluruh untuk penyempurnaan, perbaikan, dan apa saja yang bisa kita lakukan.

Karena ini sistem baru, skim baru, program baru, sebagaimana yang saya sampaikan di Bogor kemarin pasti ada di sana-sini kekurangan, kelemahan, ada yang belum pas barangkali, itu lah guna pengawasan kita, evaluasi yang kita lakukan. Saya juga tahu Pak Agung Laksono dan para menteri terkait, Menteri Kesehatan, semua juga sudah turut untuk melihat langsung implementasinya di lapangan.

Ini saya memberikan contoh, bagaimana saya merespons apa yang disampaikan kalangan dokter dan tenaga medis. Kebetulan karena istri, Ibu Ani, kebanjiran pesan dari berbagai kalangan terutama kalangan dokter dan tenaga medis, maka kemarin saya titipkan tolong sampaikan pesan atau jawaban saya melalui instagram Ibu Ani, supaya beliau-beliau, saudara-saudara kita para dokter dan kalangan medis itu mengetahui bahwa kita terus bekerja, kita sedang bekerja. Saya akan bacakan seperti ini respons saya terhadap himpunan IDI, kepada Pimpinan BPJS Kesehatan juga. Jawabannya saya bacakan saja: “Teman-teman saya menyampaikan pesan dari Pak SBY, selama 3 (tiga) hari ini beliau mendengarkan aspirasi dan keluhan dari pada dokter, melalui instagram ini yang langsung saya sampaikan kepada Pak SBY. Selama 3 (hari) ini pula Pak SBY berpikir untuk memastikan bahwa Program Jaminan Kesehatan Nasional atau BPJS Kesehatan di samping bermanfaat bagi rakyat, utamanya saudara-saudara kita yang miskin dan tidak mampu, juga perlu memperhatikan kepatutan insentif untuk jasa dokter dan tenaga medis.

Intinya Pak SBY berpikir sesuai dengan kemampuan anggaran negara dan skim dari asuransi, insentif tersebut secara bertahap mesti ditingkatkan, sehingga menjadi tepat, layak, dan adil. Sebagaimana teman-teman ketahui, sesuai dengan amanah Undang-Undang, program BPJS Kesehatan ini harus dilaksanakan mulai 1 Januari 2014 ini. Sungguhpun demikian, pemerintah akan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan dalam implementasi termasuk insentif para dokter dan tenaga medis yang lebih sesuai. Rencananya besok Pak SBY akan membahas bersama menteri terkait, Ketua BPJS Kesehatan, dan Pimpinan IDI. Kemudian kami mengirim salam kepada dokter dan tenaga medis di seluruh Indonesia, termasuk yang bertugas di pedalaman dan daerah terpencil. Terima kasih atas masukan, aspirasi, dan perhatiannya.” Ini sudah kita lepas kemarin karena banyak sekali memang komentar, kritik, keluhan bertubi-tubi yang masuk ke tempat saya dan juga tempat istri menyangkut bagaimana perspektif dari saudara kita para dokter dan tenaga medis menyangkut implementasi Sistem Jaminan Kesehatan Nasional ini.

Oleh karena itu, ratas ini kita niati untuk membahas secara seksama. Saya ingin dari pihak IDI apa saja sesungguhnya permasalahan yang dihadapi oleh para dokter dan tenaga medis dari cara pandang Bapak. Menteri Kesehatan tentu terus menyampaikan kepada saya isu ini. Demikian juga nanti Ketua BPJS Kesehatan juga bisa menyampaikan pandangan-pandangannya, dengan tujuan sekali lagi kita ingin program ini berjalan dengan baik, untuk rakyat kita, dengan juga memperhatikan kelayakan bagi para dokter dan tenaga medis yang memberikan jasa pelayanan kesehatan. Intinya di situ Saudara-saudara. Kita secara terbuka, secara terus terang, sambil mencari solusi. Tentu solusi itu dalam batas kemampuan negara, kemampuan pemerintah yang ada saat ini. Bahwa makin kedepan insya Allah akan makin baik. Tentu itu menjadi harapan kita. Mari kita bahas nanti secara objektif dengan niat dan tujuan yang baik.

Saya kita itu dulu pengantar saya. Terima kasih. (HUMAS SETKAB)