Sidang Kabinet Paripurna Tanggal 2014-07-11 Jam 14:00:00

Sidang Kabinet Paripurna | Tanggal 11 Juli 2014 | Pukul 14:00:00
Perkembangan Situasi Pasca Pemilihan Presiden

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati, Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia dan para peserta Sidang Kabinet Paripurna,

Alhamdulillah hari ini, di tengah bulan suci Ramadhan, kita dapat kembali menyelenggarakan Sidang Kabinet Paripurna. Sidang kita hari ini memiliki tiga agenda. Agenda pertama, berkaitan dengan perkembangan situasi politik dan keamanan di tanah air pasca pemungutan suara pemilihan presiden tahun 2014. Agenda yang kedua, berkaitan dengan perkembangan situasi internasional, khususnya aksi-aksi kekerasan yang terjadi di Gaza, Palestina. Sedangkan agenda yang ketiga, adalah menyangkut Program Seratus Hari Terakhir Kabinet Indonesia Bersatu II. Saudara mengenal program seratus hari pertama, tetapi saya mengajak kita membuat tradisi politik yang baru, kita juga perlu melakukan langkah-langkah yang tepat untuk 100 Hari terakhir masa bakti kabinet kita sekarang ini. Itulah tiga agenda yang akan kita acarakan pada Sidang Kabinet Paripurna hari ini.

Saya akan mulai dari agenda yang pertama, yaitu perkembangan situasi politik dan keamanan paska pemungutan suara pemilu presiden dan wakil presiden yang baru saja berlangsung. Saudara-saudara, kita mengetahui bahwa pemungutan suara pilpres 2014 ini telah berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar. Saya sudah mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh rakyat Indonesia yang dengan kematangan berpolitiknya ikut membangun suasana seperti ini. Bahkan pihak-pihak internasional termasuk pemerintah negara sahabat juga telah mengucapkan selamat kepada kita atas berlangsungnya pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia ini yang mereka nilai juga telah berlangsung secara damai dan demokratis.

Namun Saudara-saudara, di tengah itu semua, ada realitas yang sama-sama kita hadapi, yaitu kedua pasangan capres dan cawapres saling mengklaim kemenangannya. Saya sudah bertemu langsung dengan kedua pasangan capres-cawapres, tepat pada tanggal 9 Juli malam hari bertempat di Cikeas. Pertama saya telah bertemu Pak Jokowi dan Jusuf Kalla, dan dalam pertemuan itu saya didampingi oleh Menko Polhukam, Mensesneg, dan Seskab. Kemudian, satu setengah jam kemudian, jam 11 malam, saya telah bertemu dengan pasangan Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa, yang saya juga didampingi oleh pejabat yang sama. Dalam pertemuan itu, kedua-duanya atas permintaan saya, kedua belah pihak setuju dan memiliki komitmen untuk menjaga suasana yang aman dan tertib di masyarakat kita. Kedua-duanya juga sepakat untuk menunggu hasil perhitungan suara secara resmi yang dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum.

Terlepas dari pertemuan saya dengan kedua pasangan capres-cawapres itu, dan saya ikuti perkembangan situasi, jam-jam setelah pemungutan suara itu di sana-sini memang ada ekspresi kemenangan oleh pihak-pihak tertentu yang saya anggap itu wajar. Di manapun setelah ada kompetisi termasuk pemilihan umum, itu memang wajar-wajar saja ada luapan kegembiraan, syukur-- yang saya sebut dengan ekspresi kemenangan tadi. Namun saya berpesan dan sebenarnya sudah saya sampaikan baik kepada Pak Jokowi-Pak Jusuf Kalla, maupun kepada Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa, agar ekspresi kemenangan seperti itu tidak meningkatkan ketegangan atau tension di antara pihak-pihak yang masih belum bersepakat tentang hasil perhitungan cepat atau quick count dan juga tidak menimbulkan konflik horizontal atau pun bentrokan  secara fisik di lapangan.

Saudara-saudara, dalam konteks ini, peran KPU menjadi sangat penting dan sekaligus critical, karena sekarang rakyat Indonesia, semua pihak menunggu hasil perhitungan secara resmi yang akan ditetapkan nanti hasilnya oleh KPU. Tadi saya telah berkomunikasi dengan Ketua KPU, Saudara Husni Kamil, yang sedang berada di Sumatera Barat. Yang intinya, saya menyarankan, sekali lagi, saya menyarankan-- dan ketika saya menelepon Beliau, saya didampingi oleh Mensesneg dan Seskab-- agar KPU mengundang, mengajak, dan melibatkan kedua pasangan itu beserta timnya untuk bersama-sama melakukan pengawasan terhadap perhitungan yang dilakukan oleh KPU. Hal ini penting agar mereka atau kedua pasangan itu melihat langsung dan sekaligus mengawasi proses dari hari ke hari penghitungan suara itu. Sehingga pada saatnya nanti, insya Allah pada tanggal 22 Juli itu diumumkan hasilnya, kedua pasangan mengerti bahwa penghitungan itu dilaksanakan secara akuntabel, secara cermat, dan berjalan di atas kebenaran. Saya senang bahwa Ketua KPU menyambut baik pemikiran dan saran saya tadi. Kita dengar saja implementasinya seperti apa nanti. Tetapi saya ingin berkontribusi agar KPU yang sekarang menjadi pusat perhatian rakyat Indonesia, di samping kita berikan kepercayaan, juga kita berikan jalan agar pelaksanaan tugasnya bisa berlangsung dengan baik.

Saudara-saudara, peran pers dan media massa-- di sini banyak sekali insan pers-- juga sangat penting. Saya berharap dalam situasi seperti ini, pers bisa ikut menahan diri, pun tidak terlalu vulgar dalam pemberitaan yang bisa memicu makin tegangnya situasi dan bahkan bisa memicu terjadinya benturan fisik secara horizontal. Saya juga memberikan atau menyampaikan seruan kepada pers dan media massa, ketika kita menghadapi situasi setengah krisis maka pers dan media massa tidak terlalu partisan, tidak berpihak secara membabi buta dengan demikian pemberitaannya lebih fair dan berimbang (fair and balance). Dengan demikian, pers itu tetap mendapatkan kepercayaan dari rakyat kita.

Sementara itu jajaran Polri dan TNI terus mengemban tugas, terus mengawal keseluruhan pilpres 2014 ini dari sisi pengamanan, dari aspek keamanan, hingga situasinya menjadi normal kembali. Saya mendengar suara-suara di sana-sini, antara lain dialamatkan kepada pemerintah dan juga kepada saya selaku Presiden Republik Indonesia yang masing mengemban tugas-- tentu dengan harapan-harapan tertentu. Melalui mimbar ini, saya ingin menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia, posisi saya jelas, baik secara pribadi maupun dalam kapasitas saya sebagai kepala negara, saya berada di tengah. Saya harus menjadi bagian dari solusi, jernih, dan terus mengelola isu kritis ini dengan sebaik-baiknya. Ada yang mengira bahwa Presiden memilikikekuasaan atau power untuk mempengaruhi hasil pemilihan presiden ini. Saya jelaskan kepada saudara-saudara saya rakyat Indonesia, tidak ada sama sekali kewenangan saya, tidak ada. Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang terkait memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada Komisi Pemilihan Umum untuk menyelenggarakan pemilu termasuk untuk menetapkan hasil pemilu itu. Jika ada perselisihan menyangkut hasil pemilu, konstitusi juga telah memberikan kekuasaan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memutus perselisihan itu. Jadi Saudara-saudara, kekuasaan atau power itu dalam konteks ini tidak berada di tangan Presiden tetapi berada di tangan KPU dan MK. Namun secara moral saya bertanggung jawab agar keseluruhan proses pilpres 2014 berlangsung secara damai dan demokratis.

Tepat tanggal 20 Oktober 2014 nanti, secara resmi saya dapat mengakhiri tugas dan kewajiban saya sebagai Presiden Republik Indonesia digantikan oleh Presiden Republik Indonesia hasil pemilihan umum presiden dan wakil presiden tahun 2014 ini. Saya berharap semua pihak termasuk rakyat Indonesia, untuk bersama-sama menepati agenda nasional ini. Tidak boleh terganggu apalagi mengalami kemunduran-- maksud saya mundur dari jadwal yang telah ditetapkan. Marilah kita berusaha sekuat tenaga, tepat tanggal 20 Oktober 2014 terjadi pergantian kepemimpinan nasional dari saya kepada pengganti saya. Menyangkut agenda yang pertama ini, nanti secara lebih rinci Menko Polhukam akan menyampaikan laporan dan penjelasannya.

Saudara-saudara, agenda yang kedua seperti yang saya sampaikan tadi adalah berkaitan dengan perkembangan situasi di Gaza, Palestina. Kita mengikuti dari pemberitaan media internasional bahwa serangan-serangan militer terhadap Palestina dinilai telah melampaui batas, tidak proporsional. Kenyataannya telah terjadi korban sipil di masyarakat Palestina. Indonesia di samping mengecam aksi-aksi militer Israel yang berlebihan itu, juga telah aktif menjalankan diplomasi baik pada tingkat PBB atau Perserikatan Bangsa-Bangsa, tingkat Organisasi Kerjasama Islam, dan tingkat Gerakan Non Blok. Posisi dasar dan sasaran diplomasi kita adalah: satu, aksi militer aksi militer Israel harus dihentikan; yang kedua, gencatan senjata harus diadakan dengan pengawasan PBB; yang ketiga, kita harus mencegah dan menghentikan balas membalas (cycle of violence)-- Israel melaksanakan serangan udara, sementara dari pihak Palestina melaksanakan penembakan-penembakan roket. Yang ketiga ini, harus sama-sama dicegah dan dihentikan. Sedangkan yang keempat, bantuan kemanusiaan perlu diadakan terutama pada korban-korban. Kita lihat di masyarakat Palestina banyak orang tua, perempuan, dan juga anak-anak.

Sore ini saya dijadwalkan untuk berkomunikasi dengan Presiden Iran dalam kapasitas beliau sebagai Ketua Gerakan Non Blok, untuk berdiskusi membahas situasi terkini di Palestina dan apa yang bisa dilakukan oleh negara-negara anggota Non Blok agar sekali kekerasan itu bisa segera dihentikan. Nanti Menteri Luar Negeri akan melaporkan dan menjelaskan rincian dari apa yang saya saya sampaikan tadi. Kemarin saya sudah berbicara dengan Menlu tentang langkah-langkah diplomasi dan sekarang pun sudah kita jalankan sebenarnya pada tingkat PBB, OKI, maupun GNB.

Saudara-saudara, agenda yang terakhir adalah berkaitan dengan Program 100 Hari terakhir Kabinet Indonesia Bersatu kedua. Saya mengajak, mari kita tuntaskan pekerjaan kita di 100 hari terakhir ini. Pilpres 2014 terutama kampanye telah selesai, demikian pula pemilu legislatif yang sudah lebih dahulu selesai. Oleh karena itu, para Menteri dan anggota kabinet saya berharap segera kembali aktif dan secara penuh menyelesaikan tugas pokoknya. Kepala Bappenas dan Kepala UKP4 saya tugasi dalam tiga hari ini untuk menyiapkan apa saja agenda dan pekerjaan rumah kita, agenda dan pekerjaan rumah para Menteri dan anggota kabinet yang harus dirampungkan. Pilih yang paling penting Ibu Armida dan Pak Kuntoro. Misalkan masing-masing Kementerian 3-5 hal saja yang itu mutlak, yang itu penting dan menentukan untuk dijalankan. Rujuk RPJMN 2009-2014, RKP 2014, dan APBN-P 2014, serta Instruksi-instruksi Presiden yang telah kita keluarkan baik secara tertulis maupun secara lisan. Dari situ baik Kepala Bappenas maupun Kepala UKP4 akan menentukan apa pekerjaan rumah yang akan kita rampungkan.

Pada hari Senin, tanggal 14 Juli mendatang, apa yang telah dilakukan oleh Bappenas dan UKP4 agar dilaporkan kepada saya dan Wakil Presiden untuk kemudian saya teruskan kepada para Menteri dan anggota kabinet untuk dilaksanakan. Saya tugasi Wakil Presiden dengan dibantu oleh para Menteri Koordinator untuk mengkoordinasikan langsung semua pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh jajaran kabinet ini untuk 100 hari terakhir. Saya mengingatkan, banyak orang yang bilang sekarang ini masa transisi, baik presiden maupun kabinet, tetapi justru pada masa transisi inilah kita, Saudara-saudara, harus menuntaskan tugas dan tanggung jawab yang ada. Ingat kembali Pakta Integritas dan juga Kontrak Kinerja yang telah Saudara-saudara tanda tangani.

Mari kita laksanakan tugas terakhir kita ini agar kita membuka jalan baik kepada Presiden dan pemerintahan yang akan datang. Saya juga bisa menyerahkan tugas dan kewajiban menjalankan pemerintahan ini kepada pengganti saya nanti dengan baik, dengan kondisi yang jauh lebih baik, serta dengan informasi yang selengkap-lengkap. Dengan demikian, insya Allah perjalanan pemerintahan yang akan datang di bawah kepemimpinan presiden baru nanti akan baik dan bahkan lebih baik dari apa yang kita laksanakan sekarang ini.

Itulah Saudara-saudara pengantar saya.