Sidang Kabinet Paripurna Tanggal 2014-02-27 Jam 14:00:00

Sidang Kabinet Paripurna | Tanggal 27 Februari 2014 | Pukul 14:00:00
1. Persiapan Menjelang Pemilihan Umum Tahun 2014; 2. Perkembangan Perekonomian Terkini dan Manfaat Pencairan Dana Optimalisasi Tahun Anggaran 2014 di kementerian/Lembaga; 3. Evaluasi Bencana

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Agung Laksono)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam bahagia, salam sejahtera.

Saudara-saudara sekalian, dari hasil Sidang Kabinet Paripurna yang langsung dipimpin oleh Bapak Presiden dan Wakil Presiden, saya telah melaporkan selaku Menko Kesra hal-hal yang terkait dengan kebencanaan yang tentu saja kali ini lebih menyoroti dengan bencana asap akibat kebakaran lahan dan kebakaran hutan di sejumlah provinsi di tanah air akibat musim kemarau yang sudah mulai muncul.

Ada sembilan provinsi, lima di antaranya adalah di Sumatera-- ada hotspot di Sumatera Utara, di Riau, Jambi, Sumsel (Sumatera Selatan), kemudian di keempat provinsi di Kalimantan. Meskipun berita tadi pagi di Riau hotspot sudah zero, udara juga visibility-nya sudah clear sehingga sudah bisa didarati oleh penerbangan. Diperkirakan menurut BMKG bahwa musim hujan ini atau curah hujan masih akan turun pada bulan akhir Februari ini sampai dengan bulan Maret. Cenderung trennya menurun dan pada bulan April, Mei, Juni itu kemaraunya betul-betul kemarau diperkirakan jauh lebih kering. Artinya tidak seperti yang lalu, terkadang ada hujan dan sebagainya.

Itu hasil pantauan cuaca dari BMKG yang dilaporkan pada kami tadi pagi dalam sebuah Rapat Koordinasi tingkat Menteri di Kantor Kesra. Dan hal ini tentu menjadikan kita lebih waspada. Selagi menurun pada bulan Maret kita gunakan untuk konsolidasi di dalam menghadapi langkah-langkah pemadaman kebakaran hutan secara masif pada ke sembilan provinsi tersebut.

Perlu diketahui bahwa kebakaran lahan dan hutan itu sembilan puluh lima persen karena manusia. Secara disengaja ada pihak-pihak-- yang baik secara perorangan, oleh masyarakat, atau oleh korporasi-- hanya untuk kepentingannya sendiri-- mungkin membakar lahan untuk lahan pertaniannya, perkebunannya-- secara dengan tidak bertanggung jawab karena menimbulkan dalam jumlah yang masif tersebut sudah dapat dikatakan bisa menjadikan pencemaran udara sehingga ISPU-nya menjadi jelek. Indeks Standar Pencemaran Udara menjadi jelek, bahkan ada yang di atas 500, ini sudah kondisi berbahaya. Karena itu apa yang dilakukan Pemprov Riau, Pemprov Kalimantan Barat, dan Provinsi-provinsi lain-- lima Provinsi di Sumatera mereka perlu dibantu oleh pemerintah pusat. Barusan saja tadi Bapak Presiden menyetujui rencana untuk menetapkan Pimpinan BNPB sebagai pengendali dari pusat dan membantu aparat daerah, Pemda dalam hal ini BPBD, TNI/Polri. Bahkan ditetapkan Incident Commander-nya adalah badan setempat bertanggung jawab kepada Pak Gubernur.

Saudara-saudara sekalian, yang kedua adalah, di samping korporasi pemadaman dengan cara di darat, ada satgas darat, satgas udara. Satgas udara di mana kami menggunakan pesawat terbang Hercules C-130 dan Casa oleh BPPT, BMKG, bersama dengan BNPB, dan bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara untuk melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca dengan menyiram serbuk garam. Dan itu diharapkan nanti bisa membentuk curah hujan pada saat-saat musim kemarau. Yang kemarin dipergunakan di DKI untuk menggeser hujannya-- tidak di daratan tetapi ke laut. Sekarang diarahkan ke daratan justru di saat-saat musim kemarau nanti. Kesiapan bulan April, Mei, Juni, dan seterusnya, puncaknya Agustus. Demikian pula ditambah lagi dengan bantuan water bombing dari udara supaya mempercepat pemadaman terutama lahan gambut. Lahan gambut ini membutuhkan air yang cukup banyak, kalau hanya pakai damkar lama dan cukup banyak. Sehingga perlu dari udara dan ditambah dengan ada pesawat amfibi. Jadi ini semacam secara dikeroyok dalam tanda petik itu sekaligus karena areanya luas di sembilan provinsi. Mudah-mudahan tidak semua provinsi, tidak di sembilan-sembilannya tapi kita sudah harus waspada terhadap hal yang paling buruk sekalipun kita mempersiapkan seperti itu. Jadi ada satgas darat, udara, dan juga penegakan hukum.

Penegakan hukum ini penting karena sudah ada empat puluh satu penindakan oleh kepolisian. Bahkan sudah ada yang di hukum enam bulan sampai delapan tahun. Ada yang kemudian sedang diproses perdatanya, ganti rugi, dan sebagainya. Jadi penegakan hukum tetap dijalankan. Dan Bapak Presiden dalam hal ini sudah memberi petunjuk bahwa modus operandi utama adalah bukan sekedar sosialisasi tetapi langsung pada penegakan hukum oleh pihak kepolisian supaya ini lebih digencarkan. Cepat prosesnya, dari mulai penyidikan, penyelidikan, sampai pada persidangan dengan demikian ini bisa menimbulkan efek jera kepada mereka yang terutama korporasi bukan rakyat kecil tapi korporasi. Penanggungjawabnya, pemiliknya terutama, yang mungkin ada juga warga negara yang lain ikut dalam kepemilikan perusahaan-perusahaan perkebunan yang beroperasi di wilayah kita itu, apakah di Sumatera maupun di Kalimantan.

Di samping kita mengarahkan pada kejadian yang tahun sekarang, kami juga laporkan kepada Bapak Presiden, kami juga sedang menyiapkan dalam satu bulan Standart Operating Procedure (SOP) untuk penanganan nantinya secara setiap tahun supaya tidak terulang-terulang lagi. Di mana pengerahan ada sinergitas antara Kementerian/Lembaga pusat dengan daerah. Kali ini  sudah dinyatakan bencana asap oleh Pak Gubernur dan itulah sebagai dasar untuk dilakukan operasi penanganan bencana ini dengan melibatkan Kementerian/Lembaga yang terkait.

Demikian penjelasan dari kami. Sekian, terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Djoko Suyanto)

Saudara sekalian, di bidang Polhukam kami melaporkan tentang persiapan penyelenggaraan pemilu legislatif 2014 yang akan diselenggarakan 9 April nanti dan juga kesiapan tentang pemilihan presiden tanggal 9 Juli tahap pertama, mudah-mudahan.

Ada empat indikator sukses pemilu; bahwa pemilu harus berjalan lancar, aman, tertib, jujur, dan adil. Berikutnya adalah bagaimana kita bisa menciptakan atau membangkitkan peningkatan partisipasi pemilih yang kecenderungannya mulai dari 2004, 2009, 2014 itu kecenderungannya penurunan. Oleh karena itu, sosialisasi Kementerian dan Lembaga maupun segenap komponen masyarakat utamanya media untuk bersama-sama meningkatkan partisipasi pemilih untuk datang berbondong-bondong ke tempat pencoblosan. Yang berikutnya, indikator sukses yang lain adalah tidak terjadi konflik kekerasan di dalam masyarakat. Itu yang paling penting sehingga kita jaga bersama, tidak hanya aparat keamanan akan tetapi juga para penyelenggara dan pelaksana pemilu itu sendiri. Dan yang penting, apabila ada gugat menggugat di dalam proses hasil pemungutan suara atau hasil pemilihan presiden nantinya, hendaknya itu disalurkan melalui proses dan saluran hukum yang berlaku. Yang terakhir, pasti kita bisa memilih calon-calon wakil rakyat kita nanti yang mewakili kita semua di DPR dan juga pemimpin yang kualitasnya harus bisa melanjutkan proses pembangunan yang telah dilakukan. Saya bilang proses pembangunan itu berarti proses pembangunan sejak negara ini merdeka 1945 sampai kedepan nanti, lima tahun terakhir nanti yang menjabat, lima tahun lagi berikutnya. Jadi proses pembangunan yang kita laksanakan itu sejak kita merdeka.

Memang di dalam survei yang kita lakukan, Kementerian Polhukam bekerjasama dengan lembaga-lembaga demokrasi, ada kecenderungan untuk partisipasi pemilih yang sekarang sudah sampai pada posisi sekitar tujuh puluh tiga persen. Ini diharapkan masih ada waktu tersisa 1,5 bulan kedepan mudah-mudahan bisa meningkat menjadi tujuh puluh lima persen. Kita laporkan juga tentang kewajiban-kewajiban pemerintah untuk menyukseskan penyelenggaraan pemilu, antara lain penugasan-penugasan personil pada Sekretariat Panwaslu, baik di Provinsi, Kabupaten/Kota; kemudian penyediaan sarana-sarana kantor; kelancaran transportasi logistik yang harusnya memang diselenggarakan oleh KPU sekarang sedang berproses, tetapi apabila nanti KPU ingin meminta bantuan pemerintah, armada-armada TNI dan Polri saya kira siap untuk melaksanakan itu. Kemudian Kementerian Dalam Negeri menyediakan fasilitas data kependudukan yang terus berjalan sekarang updating terus dan distribusi alat pengamanan perlengkapan pemilu.

Di Kementerian Polhukam itu setiap dua minggu sekali dilakukan rapat koordinasi persiapan penyelenggaran pemilu di tingkat Eselon I dipimpin oleh Sesmenko. Sedangkan rapat-rapat tingkat Menteri untuk persiapan penyelenggaraan dilakukan dalam sebulan sekali. Sudah kita mulai sejak akhir tahun yang lalu dan bulan Januari. Nanti pada mendekati proses penyelenggaraan pemilu, pertemuan-pertemuan seperti itu akan kita perpendek waktunya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah, kami melaporkan di dalam Sidang Paripurna tentang bagaimana upaya kita bersama khususnya di Sidang Kabinet adalah para Menteri dan Kepala Lembaga terkait untuk giat juga melaksanakan sosialisasi pelaksanaan penyelenggaraan pemilu sehingga diharapkan masih ada kurun waktu 1,5 bulan kurang paling tidak bisa meningkatkan partisipasi pemilih untuk memilih calon-calon wakil rakyat kita dan presiden kita yang akan datang. Dan saya juga menghimbau kepada media massa untuk bersama-sama kita mengelaborasi, menggelorakan kepada masyarakat agar mereka-mereka ini datang di tempat pencoblosan nantinya.

Yang kita laporkan juga tentang pembahasan anggaran antara KPU dengan Kementerian Keuangan. Sedang berjalan sekarang, yang penting adalah bisa harus tepat waktu dan tepat sasaran tanpa harus meninggalkan azas-azas akuntabilitas dan azas governance-nya.

Juga dilaporkan tentang instruksi kepada TNI dan Polri di dalam netralitas mereka terhadap penyelenggaraan pemilu itu. Demikian juga Mendagri juga melaporkan melalui Menko Polhukam tentang apa-apa yang telah dikerjakan di dalam membantu KPU, membantu penyelenggara pemilu di dalam pelaksanaannya nantinya. Yang sekarang sedang berjalan, yang lainnya sudah berjalan dengan baik, tinggal adalah bagaimana mensinkronkan Daftar Pemilih Tetap antara KPU dan Kemendagri sesuai dengan amanat Undang-undang.

Saya tidak ingin melaporkan tentang kesiapan KPU dan Bawaslu karena ini tugas dari Lembaga tersebut, meskipun tadi di dalam rapat atas dasar masukan dari KPU dan Bawaslu kami laporkan kepada Beliau.

Di aspek pengamanan, Polri dan TNI saya kira sudah siap sudah untuk mengamankan pemilu sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing. Nota-nota kesepahaman antara KPU, Bawaslu, Polri, Kejaksaan, dan Kementerian Hukum dan HAM, saya kira itu adalah salah satu upaya untuk bagaimana penyelenggaraan pemilu itu dapat kita laksanakan dengan aman, tenteram, jujur, dan adil. Dan juga instruksi Polri dan TNI menjaga netralitasnya di dalam penyelenggaraan pemilu. Di dalam pengamanan, aparat TNI tugasnya hanya membantu Polri. Jadi mereka tidak berdiri sendiri di dalam upaya penanganan ini dan sifatnya hanya melakukan penebalan-penebalan, penambahan personil pada sektor-sektor yang nanti diantisipasi oleh Polri memerlukan penanganan khusus. Netralitas TNI itu sudah dijabarkan dalam Instruksi Panglima TNI maupun Perintah Harian Panglima TNI untuk bagi anggota TNI tetap netral di dalam pelaksanaan pemilu nanti. Dan juga untuk anggota TNI  yang ingin menjadi anggota legislatif maupun mencalonkan diri menjadi eksekutif harus mengajukan pensiun dini dulu.

Itu saja yang kita sampaikan pada Rapat Sidang Kabinet tadi di dalam rangka mempersiapkan penyelenggaraan pemilu tahun 2014.  Terima kasih.   

 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Hatta Rajasa)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rekan-rekan wartawan sekalian yang saya cintai, dari Rapat Kabinet Paripurna maka Menko Perekonomian melaporkan perkembangan perekonomian kita terkini dan juga tadi perkembangan perekonomian global yang tentu faktor eksternal ini memberikan pengaruh pada perekonomian domestik kita. Setelah itu kami melaporkan juga tentang kesiapan stabilitas dan ketersediaan pangan, energi. Juga kita laporkan tentang pelaksanaan pembangunan yang tentu poin-poin penting terkait dengan MP3EI dan juga tadi infrastruktur. Dan di akhir rapat tadi Bapak Presiden memberikan arahan khusus yang nanti akan saya sampaikan.

Yang pertama, saya ingin menyampaikan tentang perkembangan perekonomian global. Di tahun 2014 ini semua sepakat ini diperkirakan akan jauh lebih baik dibanding 2013 walaupun masih memiliki downside risk-- masih ada risiko-risiko. Risiko pelemahan di tahun 2014 walaupun tentu lebih baik daripada 2013. Amerika Serikat mengalami kenaikan atau perbaikan pertumbuhan ekonomi menjadi tiga persen meski dibayangi risiko perbankan dan normalisasi kebijakan moneter. Pemulihan krisis Eropa terkendala pembersihan neraca perbankan. Cina masih diperkirakan mengalami perlambatan.

Potensi gejolak likuiditas global harus kita waspadai karena gejolak harga komoditas pasar global juga menjadi perhatian kita. Namun yang ingin saya jelaskan kaitannya dengan perekonomian domestik kita. Kalau kita melihat volume perdagangan pada 2013, perdagangan dunia tumbuh hanya dengan 2,7 persen. Saudara mesti tahu, negara-negara maju masih mengalami persoalan domestiknya. Pada tahun 2014 ini diperkirakan volume perdagangan akan tumbuh di 4,5 persen dengan perbaikan harga-harga komoditas. Ini tentu akan mendorong volume perdagangan kita dan juga perbaikan pada neraca perdagangan. Trade volume diperkirakan kembali meningkat akibat dari perbaikan ekonomi negara-negara maju tersebut. Inflasi yang sudah cenderung stabil di 2013 akan membaik di 2014.

Saudara sekalian, dari apa yang kita sebutkan tadi itu, maka yang harus kita waspadai juga adalah tetap masalah misalkan taperring off di Amerika yang terus pasti akan berjalan. Oleh sebab itu, perbaikan pada negara-negara maju ini, itu memberikan tekanan tersendiri pada negara-negara emerging. Di dalam pertemuan Menteri-menteri Keuangan G20 di Australia baru-baru ini, maka disepakati bahwa negara-negara maju terutama Amerika di dalam mengambil kebijakan, policy­-nya, itu akan berkomunikasi dengan negara-negara emerging. Ini penting sekali karena tentu kita bisa mengantisipasi dan negara-negara maju juga di dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang akan memberikan tekanan kepada negara emerging tentu akan sangat terukur. Itu yang diharapkan dan ini tampaknya hasilnya cukup baik di sana.

Yang lain, yang ingin saya sampaikan kepada Saudara adalah, bahwa secara domestik tentu kita mempersiapkan diri. Oleh sebab itu, maka kita di Perekonomian bersama Menteri Keuangan juga mempersiapkan paket-paket kebijakan yang berisikan; pertama, kita tidak hanya memperbaiki defisit transaksi berjalan kita dengan mendorong semakin baik neraca perdagangan kita tapi juga kita harus mengurangi defisit pada services dan repatriasi daripada keuntungan-keuntungan perusahaan-perusahaan di dalam negeri kita yang kita coba untuk tetap direinvestasikan ke dalam. Dan di samping itu juga, kita mengantisipasi dan tetap menjaga agar pada sisi capital account kita tetap baik dengan menjaga iklim investasi. Paket kebijakan ini berkaitan dengan hal itu nantinya yang akan di dalam kuartal pertama ini sedang kita persiapkan untuk menjadi salah satu paket baru kita. Dan kita harapkan ini akan semakin memperkuat persepsi kepada Indonesia.

Kemudian yang ingin saya jelaskan juga kepada Saudara adalah bahwa kita bersyukur tiga bulan terakhir kita mengalami surplus di dalam neraca perdagangan kita sehingga membuat defisit transaksi berjalan kita mengecil dan pada sisi capital account kita bagus-- kita surplus sampai 9 billions. Namun pada kuartal pertama, Saudara tahu dengan kebijakan kita untuk tidak lagi mengekspor mineral mentah tentu akan ada pengurangan pendapatan dari sisi itu. Namun demikian kita sudah mengantisipasi itu dengan menjaga agar biodiesel kita sebagai substitusi impor BBM itu sebesar 3,5 milyar dolar akan berjalan. Oleh sebab itu, maka pada sisi ini kita jaga. Kesimpulan dari apa yang saya sampaikan tadi itu adalah, walaupun di 2013 akhir kita mengalami surplus, memang mungkin pada awal 2014 ini akan ada sedikit pada neraca perdagangan kita tentu akan ada pengaruh dari pendapatan dari mineral yang hilang tersebut. Pada 2016-2017 semua sudah akan surplus di dalam neraca minerba kita.

Yang lain, yang ingin saya sampaikan, yang kami laporkan tadi adalah investasi. Investasi, Saudara tahu setelah konsumsi investasi adalah faktor pendorong pertumbuhan ekonomi yang penting. Di 2013 kita sudah mengalami pertumbuhan year-on-year dua puluh tujuh persen. Maka pada tahun 2014, kita mentargetkan 456,6 trilyun yang terdiri atas kita harapkan dari PMA dan dari PMDN, di mana pada sisi tahun 2013 PMA mencapai 270,4 trilyun dan PMDN 128 trilyun, maka pada tahun 2014 kita targetkan PMA akan tumbuh atau mencapai 309,7 trilyun dan PMDN 146,9 trilyun. Jadi total pada 2014 yang kita targetkan sebesar 456,6 trilyun. Ini kita harapkan akan membuka lapangan-lapangan kerja baru karena itu adalah salah satu yang menjadi concern dan perintah Bapak Presiden agar 2014 itu di samping menjaga inflasi, mengurangi kemiskinan, meng-create lapangan kerja. Oleh sebab itu, faktor investasi menjadi perhatian kami sangat serius.

Kalau kita melihat tadi darimana investasi tersebut datangnya, yang membuat kita optimis adalah Jepang telah menempatkan Indonesia sebagai tujuan investasi utama. Terlihat dari investasi pada tahun 2013: 16,5 persen Jepang investasinya 16,5 persen meningkat dari peringkat empat menjadi peringkat satu dengan total investasinya sekitar 4,9 billions kalau tidak salah-- di ikuti Singapura. Dan pada tahun 2014 ini diperkirakan Jepang akan lebih meningkat karena seiring dengan Jepang telah menetapkan dalam kebijakannya Indonesia sebagai tujuan investasi utama.

Yang lain, yang kami sampaikan adalah di samping investasi adalah hal yang terkait dengan pangan terlebih dahulu. Saya ingin menyampaikan pangan Saudara sekalian, tahun 2013 kita mencapai prestasi yang cukup. Untuk beras kita tidak mengimpor walaupun Saudara tahu ada sedikit gangguan sedikit kemarin itu tentang beras premium dan sebagainya. Tapi secara keseluruhan kita mengalami surplus. Oleh sebab itu, maka target yang kita tetapkan pada 2014 ini beras dari kebutuhan kita 34,821 juta ton maka produksi kita, kita targetkan 43,04 juta ton. Sehingga kita surplus yang kita targetkan 10 juta itu sekitar 8,22 juta ton. Sedangkan jagung, kebutuhan kita 15,106 juta ton kita akan mentargetkan produksi 20 juta ton diperkirakan kita akan surplus. Namun kedelai masih defisit sekitar 757 ribu ton. Gula pasir kita akan surplus untuk konsumsi sekitar 379 ton kita memiliki kebutuhan 2 juta 720 ribu ton sedangkan ketersediaan produksi kita perkirakan 3,1 juta ton. Daging sapi kita masih tetap defisit. Pada tahun 2014 ini berkisar 25-30 ribu ton. Itu mengenai pangan.

Dalam konteks ini, Bapak Presiden tadi menekankan arahannya agar kita betul-betul menjaga ketersediaan dan stabilitas harga. Oleh sebab itu, ada tiga hal penting dalam pangan ini. Yang pertama, tetap menjaga target swasemba yang sudah ditetapkan. Yang kedua, menjaga ketersediaan dan yang ketiga stabilitas harga karena pangan memberikan dampak inflasi yang cukup apabila terjadi gejolak. Oleh sebab itu, ini ditekankan oleh Bapak Presiden dalam arahan, agar betul-betul masalah stabilitas dan ketersediaan pangan pokok dijaga.

Yang berikutnya, saya ingin sampaikan dari sisi harga. Memang ada beberapa komoditas yang mengalami harga yang cukup tinggi/naik, yaitu cabai rawit sampai dua puluh lima persen walaupun cabai merah justru turun sebesar lima belas persen dan bawang merah turun sampai dua puluh tiga persen. Yang lain yang mengalami kenaikan di atas lima persen itu perubahannya dibandingkan dengan year-on-year-nya maupun bulan sebelumnya adalah ikan dan ini seiring dengan cuaca sebetulnya. Saudara tahu banyak nelayan kita yang tidak melaut sehingga ikan baik bandeng maupun kembung meningkat 5-7 persen. Namun secara keseluruhan bahan pangan pokok tidak ada satu pun yang mengalami gangguan pasokan. Semua tersedia dengan relatif stabil dan memang ada tanda-tanda kenaikan pada horti dan ini diakibatkan oleh cuaca.

Posisi beras bulog kita sampai dengan 2014 setelah kita menetapkan nanti itu raskin kita, kita tarik satu bulan tambahan, jadi untuk dua bulan, maka stok kita di bulog itu 1,852008. Ini biasa terjadi pada musim paceklik, Januari-Februari karena bulog membeli relatif sedikit. Namun demikian ini gejala yang normal setelah pada Desember itu kita memiliki masih di atas 2 juta ton. Namun ingin saya sampaikan bahwa kita perkirakan di 2014 ini produksi kita lebih baik bertumbuhnya dibanding 2013 untuk beras. Namun demikian, kembali lagi arahan Bapak Presiden, mengingat kemungkinan akan ada iklim atau musim kering yang cukup panjang maka kita mengantisipasi itu. Arahan Bapak Presiden terkait dengan stabilitas harga pangan tadi, antisipasi kemungkinan cuaca tersebut. Oleh sebab itu, kita mulai sekarang sudah mengantisipasi. Apakah nanti Menteri Pertanian mempersiapkan pompa-pompa dan apapun yang berkaitan dengan menghadapi iklim yang kering.

Berikutnya masalah energi, Saudara tahu bahwa lifting menjadi perhatian. Bapak Presiden sudah meminta agar dilakukan upaya. Memang secara natural depletion kita itu tinggi. Secara natural sebetulnya penurunan depletion itu sekitar duabelasan persen. Kita sebetulnya sudah bisa menahan kurang dari itu dengan berbagai macam investasi dan teknologi. Akan tetapi kita berupaya keras untuk mempercepat yang sudah onstream dan melakukan enhancement recovery sehingga kita bisa menjaga agar target APBN kita, kita capai walaupun menurut pandangan kami 870 ribu barel itu memang sesuatu yang kerja keras untuk mencapai itu. Sekarang mungkin di dalam work programme-nya SKK Migas sekitar 804 ribu barel. Namun dari sisi gas relatif stabil, masih berkisar 1.200 sekian-- 1,2 juta barel setara oil.

Yang berikutnya saya ingin sampaikan listrik. Saudara sekalian, memang saya melaporkan tadi ada gangguan listrik di Medan, itu diakibatkan shutdown-nya itu pembangkit 2x100 Megawatt yang ada di Labuhan. Kemudian juga masih ada gangguan juga yang ada di Belawan. Tapi juga ada satu yang masuk dalam 1.000 Megawatt yang sudah selesai, harusnya sudah bisa testing akan tetapi transmisinya masih mengalami kendala yang terkait dengan pembebasan-- masalah sosial kira-kira itu. Oleh sebab itu, Bapak Presiden tadi memberikan perhatian serius soal ini, agar betul-betul dipercepat masalah-masalah yang terkait dengan gangguan listrik di Sumatera Utara dan juga upaya-upaya kita mempercepat pembangkit-pembangkit yang sudah harus kita selesaikan dalam konteks 10.000 Megawatt pertama maupun yang kedua.

Saudara sekalian, saya ingin melaporkan tentang paket kebijakan kita, Paket I dan Paket II. Semua berjalan baik, demikian juga yang terkait dengan biodiesel. Yang berikutnya yang terakhir yang ingin saya sampaikan listrik, soal listrik itu adalah elektrifikasi. Elektrifikasi kita saat ini sudah berkisar total semua hijau-- artinya sesuai dengan target-- berkisar 81,5 persen elektrifikasi rata-rata nasional kita di 2014. Papua masih 50,20 persen, satu-satunya yang kuning, yang lain sudah hijau semua.

Yang terakhir, yang ingin saya sampaikan adalah hal yang terkait dengan MP3EI, saya hanya ingin menyampaikan di tahun 2014 rencana groundbreaking kita proyek-proyek yang sudah diintensifikasi dan diverifikasi adalah sebesar 628,913 trilyun. Ini adalah proyek-proyek yang terdiri atas; yang pertama sektor riil sebesar 396 trilyun dan sektor infrastruktur 232,824 trilyun. Darimana sumber-sumber investasi tersebut? BUMN untuk sektor riil sebesar 22 trilyun koma delapan, swasta 372,3 trilyun, pemerintah 556 milyar, dan campuran 280 milyar. Untuk infrastruktur BUMN 48,78 trilyun, swasta 35,226 trilyun, pemerintah 31,774 trilyun, dan campuran 117,037 trilyun sehingga totalnya adalah 628,913 trilyun. Ini mulai dari Koridor I - Sumatera sampai Koridor VI - Papua.

Ini Saudara sekalian yang telah kami laporkan dan arahan Bapak Presiden atas semua itu saya sampaikan yang menjadi pekerjaan yang harus kita tuntaskan yang pertama adalah Bapak Presiden meminta agar hal yang terkait dengan stabilitas harga pangan dijaga, baik harga maupun ketersediaannya. Jaga inflasi dengan baik. Yang kedua, stabilitas nilai tukar kita sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saya sebutkan tadi itu, oleh sebab itu ini juga menjadi perhatian concern kita. Saudara tahu nilai tukar rupiah kita menguat itu tidak lain daripada kinerja kita yang harus kita akui juga membaiknya neraca pembayaran, membaiknya capital account adalah salah satu faktor.

Yang kedua, Bapak Presiden meminta agar masalah infrastruktur jalan terutama akibat dari bencana kemarin dan juga hujan-hujan yang mengganggu jalan agar dituntaskan. Dan ini menjadi perhatian Menteri PU untuk betul-betul harus kita jaga.

Yang ketiga, Bapak Presiden meminta agar penggunaan dana optimalisasi harus dijaga betul governance-nya. Jangan ada penyimpangan dan betul-betul harus yang sudah diprogramkan oleh pemerintah dan sudah juga disetujui oleh DPR. Oleh sebab itu, semua yang berkaitan dengan dana optimalisasi harus melalui verifikasi dari BPKP.                                                  

Inilah hasil-hasil dari Rapat Kabinet di Bidang Perekonomian pada sore hari ini. Kalau ada 1-2 pertanyaan silakan, kalau tidak saya ucapkan terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.