Rapat Terbatas Tanggal 23 October 2020 Pukul 09:00:00

Rapat Terbatas | Tanggal 23 Oktober 2020 | Pukul 09:00:00
Percepatan Peningkatan Nilai Tambah Batu Bara

  1. Agenda Rapat Terbatas (Ratas) membahas Percepatan Peningkatan Nilai Tambah Batu Bara.
  2. Indonesia harus bergeser dari negara pengekspor bahan-bahan mentah yang salah satunya batu bara, menjadi negara industri yang mampu mengelola bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi. Hal tersebut merupakan strategi besar yang harus dilakukan secara konsisten oleh pemerintah. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah harus bergerak untuk pengembangan industri turunan batu bara mulai dari industri peningkatan mutu (upgrading), pembuatan briket batu bara, pembuatan kokas, pencairan batu bara, gasifikasi batu bara, hingga campuran batu bara air.
  3. Pengembangan industri turunan batu bara akan mampu meningkatkan nilai tambah dari komoditas batu bara hingga berkali-kali lipat, mengurangi impor bahan baku yang dibutuhkan beberapa industri dalam negeri seperti industri baja dan industri petrokimia, serta hal yang tidak kalah penting adalah membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya. Untuk itu, roadmap optimalisasi pemanfaatan batu bara dalam negeri agar benar-benar dipercepat dengan penerapan teknologi yang ramah lingkungan. Selain itu, tentukan strategi dan target produk hilir yang akan dikembangkan sehingga arah yang dituju pemerintah menjadi jelas mencakup jumlah yang akan diubah menjadi gas maupun produk petrokimia serta pemetaan kawasan yang dapat dikembangkan untuk melakukan hilirisasi industri batu bara. Hal tersebut penting sehingga strategi pemerintah ke depan menjadi jelas.
  4. Pemerintah agar memastikan wilayah yang memiliki cadangan sumber batu bara yang cukup untuk menjamin pasokan kebutuhan batu bara dalam proses hilirisasi. Berkaitan dengan hal tersebut, terdapat beberapa prioritas yang dapat dikerjakan seperti program gasifikasi batu bara (Dimethyl Ether/DME), gasifikasi batu bara menjadi synthetic gas (syngas) yang diperlukan industri petrokomia, serta DME yang sangat penting sebagai substitusi dari Liquified Petroleum Gas (LPG) mengingat Indonesia hingga saat ini masih melakukan impor LPG. Oleh karena itu, substitusi tersebut diharapkan dapat mengurangi impor LPG Indonesia.
  5. Berdasarkan laporan yang diterima Presiden, pengembangan industri turunan masih terkendala urusan yang berkaitan dengan keekonomian dan faktor teknologi. Hal tersebut dapat diatasi apabila perusahaan-perusahaan tersebut atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ber-partner atau mencari partner. Pada tahun 2019, hanya terdapat 5 pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi (IUPK OP) yang melakukan coal upgrading dan 2 pemegang IUPK OP yang memproduksi briket batu bara. Berkaitan dengan hal tersebut, para pimpinan kementerian/lembaga (K/L) agar mencarikan solusi mengatasi kelambanan pengembangan industri turunan batu bara tersebut. Hal itu penting mengingat pemerintah telah sangat lama mengekspor batu bara mentah sehingga ekspor tersebut harus segera diakhiri apabila nanti akan terdapat beberapa perpanjangan dengan kewajiban untuk memulai hal tersebut.